Thursday, December 11th, 2008...2:26 pm

Semangat Kurban di Tengah Krisis Ekonomi

Jump to Comments

Khutbah Idul Adha 10 Dzulhijjah 1429 H- 8 Desember 2008
Stadion Mandala Krida Yogyakarta
(Prof. Dr. Edy Suandi Hamid. M.Ec.-Rektor Universitas Islam Indonesia)

Prof. Dr. Edy Suandi Hamid. M.EcKurban, yang akar katanya bermakna dekat, pada dasarnya merupakan ibadah yang berdimensi sosial dan sekaligus universal. Dengan berkurban, seorang hamba menyembelih hewan kurban yang menjadi manifestasi dari usahanya menghilangkan nilai-nilai rendah hewaniah demi mencapai derajat ketakwaan yang selanjutnya mendekatkan dirinya kepada sang Khalik.

Dengan membagikan daging kurban kepada sesama, seorang hamba juga sekaligus menumbuhkan jiwa sosial yang universal, karena peruntukan daging kurban, sebagaimana disyariatkan Islam, tidak mengenal pem- bedaan agama.

Jika dirunut ke belakang, ibadah kurban merupakan perintah Allah SWT melalui Nabi Ibrahim As untuk menyembelih Sang Putra Nabi Ismail As (QS Ash-Shafat [37]: 102). Pada saat menerima perintah berkurban ini lebih dari 3.000 tahun yang lalu, Nabi Ibrahim As benar-benar berada dalam kondisi kehidupan yang serbasusah.

Sebelumnya, atas perintah Allah SWT beliau telah meninggalkan negerinya untuk menuju padang tandus (Mekah), di mana Baitullah berdiri. Nabi Ibrahim As selanjutnya juga diperintahkan untuk menyucikan Baitullah dan mengumandangkan panggilan kepada manusia untuk melaksanakan ibadah haji (QS Al-Hajj [22]: 26-27).

Simbol Pengorbanan

Perintah menyembelih putranya merupakan tugas yang berat karena Sang Putra lahir setelah sedemikian lama beliau menantikan kehadiran anak penyambung garis keluarga (QS Ash-Shafat [37]: 100-101).

Gambaran ini menunjukkan bagaimana keikhlasan dalam melaksanakan perintah menjadi fondasi dari setiap amal ibadah, termasuk berkurban. Keikhlasan tersebut muncul sebagai cerminan ketakwaan dan pengakuan yang tulus akan kekuasaan Allah SWT sebagai sang Maha Pencipta.

Sang kurban, Nabi Ismail As, pada dasarnya merupakan simbol tidak hanya bagi Nabi Ibrahim As, tetapi juga bagi seluruh manusia. Simbol dari harta kekayaan, keluarga (anak, pasangan), waktu, jabatan, dan segala kesenangan hidup yang sewaktu-waktu akan dituntut pengorbanannya.

Pada saat perintah Ilahi diberikan, maka keikhlasan dan ketulusanlah yang menjadi pegangan dan segala kesenangan hidup harus ditinggalkan untuk memenuhi perintah-Nya.

Perintah Ilahi ini pun tidak terbatas pada ritual ibadah, tetapi juga aktivitas sosial untuk mengangkat harkat kemanusiaan, mengurangi hak milik untuk kesejahteraan masyarakat yang lebih luas, dan perintah universal lainnya.

Dalam konteks pengorbanan (dalam melaksanakan perintah Ilahi) semacam inilah sebenarnya semangat kurban dapat kita tampilkan sebagai ibadah sosial yang mampu mengobati sejumlah persoalan bangsa. Di tengah makin pesatnya perkembangan peradaban dan teknologi, kita tidak dapat memungkiri masih banyak masyarakat miskin di negara kita yang membutuhkan pertolongan (37,17 juta penduduk berdasarkan data BPS Maret 2007). Struktur ekonomi yang timpang juga telah menciptakan kesenjangan sosial yang tidak adil (porsi konsumsi 40% penduduk termiskin hanya 19,10% pendapatan nasional). Kondisi ini masih ditambah rentannya ekonomi nasional terhadap dampak krisis ekonomi dan keuangan global yang masih terus berlangsung.

Aktualisasi Pengorbanan

Dengan melihat keadaan semacam ini, tentu wajar jika muncul pertanyaan, di mana peran ibadah kurban yang dilakukan umat Islam Indonesia selama ini? Mungkinkah kurban menjadi ibadah sosial yang manfaatnya benar-benar dirasakan bangsa ini? Jawaban atas pertanyaan ini akan sangat bergantung pada bagaimana kurban dimaknai sebagai salah satu rangkaian ibadah di hari raya Idul Adha ini. Jika kurban hanya dimaknai sebatas ibadah ritual setiap tahun dengan menyembelih binatang ternak semata, maka selama itu pula nilai kurban akan berakhir dengan habisnya pembagian daging binatang sembelihan.

Namun, jika kurban diarahkan pemaknaannya sebagai ibadah sosial yang menekankan pengorbanan harta, keuntungan, waktu, pangkat, dan bahkan jiwa, demi kepentingan sesama, maka semangat kurban akan sangat bermanfaat dalam menumbuhkan jiwa sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Di tengah ancaman krisis semacam ini, sudah selayaknya pemimpin bangsa, para hartawan, pebisnis, dan kelompok masyarakat atas, menunjukkan solidaritasnya dengan meringankan beban rakyat kecil.

Solidaritas ini, antara lain dapat diwujudkan dengan tidak mengambil keuntungan di saat krisis dengan melakukan spekulasi (mata uang, emas, dan menimbun barang kebutuhan) secara berlebihan yang dampaknya hanya akan merugikan negara yang pada akhirnya ditimpakan kepada rakyat kecil melalui pajak dan pengurangan belanja negara untuk pembangunan.

Masyarakat kecil selama ini merupakan kelompok yang paling menderita, baik oleh pilihan kebijakan negara (kenaikan BBM, upah minimum), maupun oleh ketidakadilan ekonomi. Belum lagi tidak tersedianya back-up dan cadangan kebijakan yang mampu menjadi sandaran bagi masyarakat kecil di saat guncangan ekonomi melanda. Sementara di sisi lain, masyarakat menengah ke atas, menikmati berbagai kebijakan yang prokepentingan mereka, di samping adanya perlindungan yang memadai setiap saat ketika terjadi masalah dalam perekonomian.

Di kalangan pejabat negara, semangat kurban dapat ditumbuhkan, antara lain dengan pengendalian diri untuk tidak menuntut terlalu banyak kemewahan dan fasilitas negara. Perjalanan dinas atau fasilitas lain, serta belanja negara yang tidak terlalu berdampak signifikan bagi efektivitas dan efisiensi pemerintahan, perlu dikurangi demi menghemat anggaran negara, sehingga dananya bisa dimanfaatkan untuk alokasi yang lebih membantu kehidupan rakyat banyak. Jumlah anggaran yang dihemat bisa jadi hanya sedikit jika dihitung secara proporsional terhadap anggaran secara keseluruhan. Namun dari jumlah yang sedikit ini, jika dikumpulkan akan merupakan modal penting bagi penguatan ekonomi rakyat banyak.

Dengan demikian, kurban sebagai ibadah sosial di saat perekonomian mengalami permasalahan seperti sekarang ini dapat dilakukan dengan menahan diri dari perburuan rente jangka pendek yang berdampak negatif bagi perekonomian secara umum. Selain itu, para hartawan juga sudah saatnya sadar bahwa dalam harta mereka benar-benar terdapat hak bagi orang-orang miskin dan membutuhkan.

sumber : suara pembaruan, 6 -12-2008


Comments are closed.