Tuesday, March 4th, 2014...1:32 pm

Skema JKN Akan Berjalan Timpang Tanpa Peran Apoteker

Jump to Comments

Memasuki tahun 2014, pemerintah telah secara resmi menggulirkan skema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Sistem tersebut bertujuan meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan (universal health coverage) bagi semua lapisan masyarakat sehingga turut mendorong kualitas kesehatan bangsa. Apoteker mempunyai peran vital sebagai garda depan tenaga kesehatan yang secara langsung terlibat dalam implementasi sistem tersebut. Selain itu, apoteker turut berperan penting mengendalikan mutu dan menekan biaya pengobatan bagi masyarakat kurang mampu. Tanpa peran yang optimal dari apoteker, implementasi skema JKN dinilai akan berjalan timpang. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Ikatan Apoteker Indonesia DIY, Nunut Rubiyanto., S.Si, Apt pada Sumpah Apoteker UII Angkatan XXII, Selasa (4/3) di Auditorium Kahar Muzakkir, kampus terpadu UII.

“Dalam skema JKN, tantangan kesehatan akan semakin kompleks sehingga apoteker hendaknya selalu berkomitmen pada kualitas, baik pada tahap input maupun proses”, tambahnya. Ia mengajak para apoteker muda UII untuk tidak hanya mengedepankan keahlian kefarmasian semata namun juga moralitas selama bekerja.

Senada Ketua Komite Farmasi Nasional (KFN), Drs. Bambang Triworo, Sp.FRS.,Apt menyatakan bahwa JKN merupakan terobosan pemerintah di bidang kesehatan yang patut diapresiasi. “Meski masih ada kekurangan, namun iktikad pemerintah untuk mendorong peningkatan kualitas kesehatan harus didukung oleh semua pihak termasuk kalangan apoteker”, katanya. Hal ini sejalan dengan hak setiap warga negara untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan memadai yang memang telah diamanahkan oleh undang-undang.

Rektor UII, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec berharap para apoteker lulusan UII dapat konsisten dalam menggunakan keahlian yang mereka pelajari untuk terjun mengabdi di tengah masyarakat. “Apoteker mempunyai peran strategis dalam elemen pelayanan kesehatan di masyarakat. Sangat disayangkan jika lulusan apoteker tidak bekerja sesuai dengan kompetensi profesinya”, ujarnya. Ia juga menyebut pentingnya peran apoteker dalam pengawasan obat yang beredar di masyarakat bersama pemerintah. Hal ini sangat penting sebab setiap tahunnya terdapat lebih dari 300.000 obat baru yang terdaftar.

Sumpah Apoteker Angkatan ke XXII ini diikuti 103 peserta dari Program Studi Profesi Apoteker. Lulusan terbaik yang medapat pin emas pada sumpah kali ini diraih oleh Risti Pratiwi dengan IPK 3,94. Hingga kini program studi profesi apoteker Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Islam Indonesia (FMIPA UII) telah meluluskan 2.225 apoteker yang telah tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Comments are closed.