Saturday, June 14th, 2014...3:12 pm

Lulusan Perguruan Tinggi Dianjurkan Menjadi Entrepreneurs

Jump to Comments

Saat ini semakin banyak sarjana, bahkan mereka bergelar doktor, masuk dalam sektor usaha dan menjadi entrepreneur. Mereka melihat posisi entrepreneurs lebih menjanjikan ketimbang menjadi pegawai negeri, ataupun pegawai pada perusahaan swasta milik orang lain.

Oleh karena itu, para lulusan Perguruan Tinggi (PT) dianjurkan untuk menjadi entrepreneurs ketimbang melamar ke sana ke mari yang juga tidak mudah memperoleh pekerjaan. Lebih-lebih di Papua, dengan kekayaan alam yang luar biasa banyak, dengan perekonomian berkembang pesat, serta anggaran daerah yang besar, maka peluang usaha semakin menjanjikan. Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) dan juga Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Edy Suandi Hamid, M.Ec. dalam sambutan pada wisuda Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STIKIP) Muhammadiyah di Manokwari, Papua Barat, Sabtu (14/6).

Pada kesempatan tersebut, STIKIP Muhammadiyah di Manokwari mewisuda 248 wisudawan, terdiri atas 199 wisudawan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 16 wisudawan Matematika, 8 wisudawan Biologi, 12 wisudawan Bahasa Inggris, dan 12 wisudawan Bahasa Indonesia. Wisuda juga dihadiri Gubernur Papua Barat, Abraham Oktavianus Atururi, Wakil Bupati Manokwari/Ketua Aptisi Wilayah XIV B Dr. Robert K.R. Hammar, SH. MH, Koordinator Kopertis Wilayah XIV, Drs. Festus Simbiak, M.Pd. Koordinator Kopertis Wilayah XII Dr. Zainuddin Notanubun, M.Pd. dan Abdul Rosik Manan, SH.,M.MPd selaku Ketua STKIP Muhammadiyah di Manokwari.

Dikatakan, saat ini bukan saatnya lagi merasa lebih bergengsi menjadi pegawai. "Dulu orang merasa bangga jadi PNS, dan merasa rendah kalau hanya berbisnis atau usaha mandiri. Sekarang sudah berubah, orang melihat bagaimana kinerjanya, bagaimana hasil karyanya, sehingga tak ada pekerjaan yang otomatis mengangkat status sosial seseorang," ujar mantan Rektor UII ini.

Dulu, tambahnya, untuk jadi pejabat, seolah hanya bisa dari PNS atau ABRI. "Sekarang kan tidak. Banyak pemgusaha bisa jadi gubernur, walikota, bupati, hingga menteri. Bahkan ada yang jadi Wapres atau Calon Presiden," kata Edy Suandi Hamid.

Dikatakan, saat ini ratusan ribu lulusan PT menganggur, dan memberikan gambaran betapa persaingan di bursa kerja lulusan PT sangat ketat. Persaingan ketat juga membuat gaji mereka pun tertekan ke bawah.

Ditambahkan, dengan berlakunya Asean Economic Community (AEC) akhir tahun depan, persaingan ini akan makin ganas lagi. Tenaga terdidik dan  terlatih dari negara asean akan banyak masuk ke Indonesia. Mereka sudah menyiapkan diri sejak lama menghadapi persaingan era AEC ini, sementara kita belum melakukan apa-apa. Oleh karena itu, Edy Suandi Hamid juga mengingatkan para sarjana baru untuk terus mengasah pengetahuannya dan ketrampilannya,  khususnya soft skill.

Dikatakan, dari suatu penelitian yang dilakukan Harvard University AS, dikerahui hard skill hanya menyumbang 20% dari karir seseorang, 80% ditentukan soft skill, seperti kemampuan berkomunikasi, kemampuan berorganisasi, kepemimpinan, daya analitik, etika, kemampuan beradaptasi, dan sebagainya. "Indeks prestasi diperlukan, tapi bukan yang utama,"ujarnya.

Oleh karena itu, tak mengherankan juga para CEO perusahaan ketika merekrut tenaga kerja melihat dari soft skill ini. Utamanya seperti kemampuan bekerja dalam team, kemampuan mengambil keputusan dengan cepat, ataupun kemampuan berkomunikasi baik internal maupun eksternal.

Comments are closed.